Pages - Menu

CERPEN

Cerpen temanku -> fifi
sudah lebih dari 8 kali alarm itu berdering, tapi sang pemilik seolah sedang masa hibernasi. Gadis yang masih bergelut diatas ranjang itu sesekali menggeliat dan menguap. Matanya yang bulat terpejam rapat. Tak menghiraukan segala bentuk kerusuhan yang terjadi diluar jendela kamarnya. Tak peduli dengan banyak bisikan yang tertuju padanya.
Gadis itu bernama Kim Rae Mi. gadis dengan kecantikan bak seorang selebritis, dengan penampilan yang mau diapa-apakan juga tetap akan terlihat cantik, rambut ikal berwarna hitam yang sering ia gerai. Terlalu sibuk sehingga tidak bisa mengikat rambut, katanya. Kulit putih susu yang natural, wajah mulus tanpa campur tangan make up. Semua terlihat alami. entah apa yang nenek moyangnya lakukan, melihat gadis itu saja, bisa membuatmu lupa apa yang sedang kau lakukan.
Kecantikannya yang luar biasa membuat banyak kalangan perempuan yang menjauhinya dan menganggap bahwa ia adalah seorang rival kecantikan. Sedangkan untuk kalangan lelaki, ia bagai magnet yang siap mendekatkan jarak mereka jika mereka berada dalam medan magnetnya. Jika magnet itu terlalu kuat dan berkuasa, gadis itu seperti bulan yang dikelilingi beribu bintang disekelilingnya, yang siap menerangi bulan itu sehingga ia bisa tampak bersinar.
Tidak sedikit pula dari bintang-bintang itu yang akhirnya pergi. Merasa bahwa sinarnya sudah lebih redup dibandingkan bulannya. Bintang-bintang itu yang sudah menyerah akhirnya memutuskan untuk  menutup mata mereka pada si bulan, membiarkannya menjadi santapan bintang-bintang lain, membiarkan bulan itu bersinar dengan sinar-sinar bintang yang lain.
Drrrrttt….drrrtrtt…drrrrttt….
“emh..?” gadis bernama Kim Rae Mi itu hanya menempelkan ponselnya ditelinga, lalu mendengus malas ke seseorang yang berada di seberang sana.
“ya Kim Rae Mi! cepat bergegas, pintu gerbang akan segera ditutup!” seru seseorang itu dengan panik. Kim Rae Mi dengan wajah yang masih mengantk dan lingkaran hitam disekitar matanya hanya menguap. Membiarkan detik demi detik terlewatkan begitu saja.
“kau mau bolos lagi?” Tanya seseorang itu sambil menurunkan oktaf suaranya. Melembut seperti seorang ibu yang sedang prihatin dengan kondisi psikis anaknya.
“molla.. apa aku harus membolos lagi?” gadis yang tadi masih berbaring telentang kini duduk bersila diatas ranjangnya. Masih dengan rambut acak-acakan dan mata setengah menutup.
“itu..terserah kau saja, aku hanya ingin mengabarkan kalau pintu gerbang akan segera ditutup. Aku akan mengijinkanmu jika kau ingin bolos.” Kata seseorang itu masih dengan nada prihatinnya.
“emm..” gadis itu menggumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
“yasudah, beristirahatlah saja. Bersenang-senang dengan hidupmu.” Pesan seseorang itu lagi.
“emm...” gumam gadis itu lagi.
“annyeong..”
KLIK! Akhirnya sambungan itu terputus.
Gadis diatas ranjang itu termangu menatap jam alarm-nya yang akan berdering lagi. Ia diam setelah jam alarm itu benar-benar berdering.
“dia bukan manusia.”
“dia terlalu cantik untuk ukuran manusia.”
“dia seperti dewi.”
“dia sungguh bukan manusia.”
“aku jamin, dia adalah jelmaan dari seorang dewi yang terbuang.”
“aku tak akan lagi menatapnya!”
“aku terlalu lelah untuk menatapnya.”
Gadis itu memejamkan matanya untuk beberapa saat. Ia tidak ingin mengingat percakapan diantara kelompok lelaki 2 hari yang lalu. Tapi ingatan itu seperti menghantuinya. Gadis itu meremas mukanya dengan keras, seolah ia ingin memusnahkan muka cantiknya yang ia dapatkan secara alami.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar