Pages - Menu

Rabu, 20 Agustus 2014

Penyelamat dan Penakluk
     Matahari mulai Nampak. Terlihat sinarnya mulai menelusuri lorong sempit diantara gedung – gedung bertingkat. Sosok bertubuh tegap dan tinggi. Wajahnya masih terlihat samar. Namun, masih terlihat sorotan matanya yang tajam. Tiba – tiba terdengar serentetan tembakan dan kegaduhan tak jauh dari lorong.
      Pemuda dengan memakai jaket merah dan bertudung itupun berjalan menuju asal suara tembakan. Masyarakat yang saat itu sedang di jalan tersebut berlarian untuk mencari tempat berlindung. Terlihat segrombolan orang yang membabi-buta menembakan tembakan ke segala arah.
      Sosok wanita setengah abad keluar dari rumahnya. Wanita itu berteriak “Hei, mau apa kalian dating kemari? apa tidak ada beras untukmu. Kalian dating kemari untuk merampas beras kami? Ambil saja ini. Anggap saja ini sedekah dari kami” tatap wanita itu dengan penuh kejengkelan. Pemuda itu heran. Kenapa awal kedatangannya  sudah di sambut dengan tembakan dan kekacauan yang terjadi tak jauh dari rumahnya.
      Pikiran pemuda tersebut teralihkan dengan seorang anak kecil dan remaja laki- laki berusia sekitar 18 tahun berlari menyusul ibunya. Mereka meminta sang Ibu agar segera masuk ke dalam rumah karena tidak aman.
      Hampir mereka berdua sampai di dekat Ibunya. Terdengar suara tembakan. Dor! Tepat, tembakan itu mengenai remaja laki – laki sebelum remaja itu sempat menembakan pistolnya kea rah gerobolan tersebut. Remaja itu meninggal. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ia sempat melemparkan buku peninggalan Ayahnya kepada Adik semata wayanagnya. Ibu dan Adiknya kaget karena tidak menyangka gerombolan itu akan tega. Dor! Tembakan untuk yang kedua juga tepat mengenai sang ibu. Pemuda itu kaget. Ia mulai lemas tak berdaya melihat dua orang rakyat biasa, tak bernyawa dalam hitungan detik. Namun Ia kembali tersadar  setelah ia mendengar jeritan orang – orang. Terutama saat Ia melihat anak kecil yang sudah keholangan seluruh anggota keluarganya.Lalu dengan gesit Pemuda itu menggendong anak kecil itu dan membawanya ke tempat perlindungan yang aman.
      Pemuda itu berlari dari kejaran gerombolan penjahat. Ia memasuki pasar agar jejak dia dan anak kecil yang Ia bawa tidak terdeteksi. Ia sudah berada di seberang wilayah tempat kejadian. Wilayah ini bernama Tudo. Wilayah yang terkenal dengan kebersihan, alam, dan menjujung tinggi rasa saling peduli antara masyarakatnya.
        Pagi harinya, Pemuda itu sedang menyiapkan makanan untuk dia dan anak kecil yang sekarang tinggal bersama dia. Pemuda itu terlihat cekatan dalam memasak. Anak kecil itu bangun. Matanya terlihat bengkak. Pemuda itu menyapa si anak kecil,” Pagi keriwil..”sapa pemuda dengan senyum. Pemuda tersebut tdak asal-asalan memanggil anak kecil tersebut dengan sebutan keriwil. Karena memang anak tersebut berambut keriwil. Anak itupun menjawab ceria dengan sedikit menguap “Pagi juga, Jenderaal..”. Dari raut muka anak tersebut, terlihat bahwa ia telah berterimakasih karena telah menolongnya. Lalu mereka saling berkenalan. Anak kecil itu bernama Al-Fatih dan pemuda itu bernama Salaam.
       Salaam bertanya kepada Fatih tentang kenapa matanya bengkak. “mata saya bengkak bungkan karena saya menangisi kepergian keluarga saya. Saya sedih, tapi itu sudah tadir yang terbaik. Karena Allah SWT tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Mata saya bengkak ini karena kemarin saat kejadian saya terpukul oleh salah seorang gerobolan itu.. hehe”. Jawab Fatih sambil tersenyum. Lalu Fatih bercerita kepada Salaam tentang buku peninggalan Ayahnya. Buku itu berisi tentang wasiat dari ayah dan ibunya. Ayahnya berpesan agar anaknya tidak melukai manusia bahkan tumbuhan dan juga ibunya berpesan agar anaknya tidak menyepelekan ibadah dan menjaga perdamaian di muka bumi. Salam mengangguk- anggukan kepala tanda membenarkan.  Lalu Salaam  bertanya siapa gerombolan yang kemarin menyerang wilayah Pampam. “Gerombolan itu adalah anak buah Xidol. Xidol adalah pemimpin organisasi ODOL ynag ingin menguasai wilayah Pampan karena wilayahnya yang setrategis. Makanya Xidol dan sekutunya berusaha dengan berbagai cara untuk mengambil paksa wilayah yang bukan miliknya” Jawab Fatih.”Berarti mereka akan menghabisi semua orang yang tetap mempertahankan wilayahnya?”Tanya Salaam.”Iya, karena prisip bangsa Pampam tanah itu haq mereka dan kewajiban mereka adalah enjaga tanah tersebut”. Salaam kagum mendengan penjelasan Fatih yang masih anak kecil bias menjelaskan semuanya.
       Salaam dan Fatih pun merencakan untuk melumpuhkan Xidol dan organisasinya. Mereka berdua menyiapkan setrategi. Mereka berencana melumpuhkan tetapi tidak menambah korban jiwa. Akhirnya tiba pada waktunya. Fatih membuat kekacauan kepada pengikut Xidol. Dan akhirnya karena kecerdikan dan oengaruh kuat Fatih, para pengikut Xidol bertobat untuk berhenti menyrang wilayah Pampam. Sekarang tinggal Xidol yang belum di taklukan. Salaam mendatangi rumah Xidool yang penuh penjagaan dan perangkap yang siap siaga 24 jam. Tapi Salaam bukanlah sembarang pemuda karena dia adalah sang Penyelamat. Jadi dia dengan berbagai cara, akhirnya Salaam dapat melumpuhkan para penjaga. Xidool pun terkena perangkapnya sendiri. Akhir cerita wilayah Pampam  berubah menjadi wilayah yang nyaman, indah, damai, dan bertambah setrategis. Salaam pun disebut masyarakat sebagai sang Penyelamat dan Fatih sebagai sang Penakluk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar