Penyelamat
dan Penakluk
Matahari mulai Nampak. Terlihat sinarnya
mulai menelusuri lorong sempit diantara gedung – gedung bertingkat. Sosok
bertubuh tegap dan tinggi. Wajahnya masih terlihat samar. Namun, masih terlihat
sorotan matanya yang tajam. Tiba – tiba terdengar serentetan tembakan dan
kegaduhan tak jauh dari lorong.
Pemuda dengan memakai jaket merah dan
bertudung itupun berjalan menuju asal suara tembakan. Masyarakat yang saat itu
sedang di jalan tersebut berlarian untuk mencari tempat berlindung. Terlihat
segrombolan orang yang membabi-buta menembakan tembakan ke segala arah.
Sosok wanita setengah abad keluar dari
rumahnya. Wanita itu berteriak “Hei, mau apa kalian dating kemari? apa tidak
ada beras untukmu. Kalian dating kemari untuk merampas beras kami? Ambil saja
ini. Anggap saja ini sedekah dari kami” tatap wanita itu dengan penuh
kejengkelan. Pemuda itu heran. Kenapa awal kedatangannya sudah di sambut dengan tembakan dan kekacauan
yang terjadi tak jauh dari rumahnya.
Pikiran pemuda tersebut teralihkan dengan
seorang anak kecil dan remaja laki- laki berusia sekitar 18 tahun berlari
menyusul ibunya. Mereka meminta sang Ibu agar segera masuk ke dalam rumah
karena tidak aman.
Hampir mereka berdua sampai di dekat
Ibunya. Terdengar suara tembakan. Dor! Tepat, tembakan itu mengenai remaja laki
– laki sebelum remaja itu sempat menembakan pistolnya kea rah gerobolan
tersebut. Remaja itu meninggal. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Ia sempat
melemparkan buku peninggalan Ayahnya kepada Adik semata wayanagnya. Ibu dan
Adiknya kaget karena tidak menyangka gerombolan itu akan tega. Dor! Tembakan untuk
yang kedua juga tepat mengenai sang ibu. Pemuda itu kaget. Ia mulai lemas tak
berdaya melihat dua orang rakyat biasa, tak bernyawa dalam hitungan detik.
Namun Ia kembali tersadar setelah ia
mendengar jeritan orang – orang. Terutama saat Ia melihat anak kecil yang sudah
keholangan seluruh anggota keluarganya.Lalu dengan gesit Pemuda itu menggendong
anak kecil itu dan membawanya ke tempat perlindungan yang aman.
Pemuda itu berlari dari kejaran
gerombolan penjahat. Ia memasuki pasar agar jejak dia dan anak kecil yang Ia
bawa tidak terdeteksi. Ia sudah berada di seberang wilayah tempat kejadian.
Wilayah ini bernama Tudo. Wilayah yang terkenal dengan kebersihan, alam, dan menjujung
tinggi rasa saling peduli antara masyarakatnya.
Pagi harinya, Pemuda itu sedang
menyiapkan makanan untuk dia dan anak kecil yang sekarang tinggal bersama dia.
Pemuda itu terlihat cekatan dalam memasak. Anak kecil itu bangun. Matanya
terlihat bengkak. Pemuda itu menyapa si anak kecil,” Pagi keriwil..”sapa pemuda
dengan senyum. Pemuda tersebut tdak asal-asalan memanggil anak kecil tersebut
dengan sebutan keriwil. Karena memang anak tersebut berambut keriwil. Anak
itupun menjawab ceria dengan sedikit menguap “Pagi juga, Jenderaal..”. Dari
raut muka anak tersebut, terlihat bahwa ia telah berterimakasih karena telah
menolongnya. Lalu mereka saling berkenalan. Anak kecil itu bernama Al-Fatih dan
pemuda itu bernama Salaam.
Salaam bertanya kepada Fatih tentang kenapa
matanya bengkak. “mata saya bengkak bungkan karena saya menangisi kepergian
keluarga saya. Saya sedih, tapi itu sudah tadir yang terbaik. Karena Allah SWT
tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya. Mata saya bengkak ini
karena kemarin saat kejadian saya terpukul oleh salah seorang gerobolan itu..
hehe”. Jawab Fatih sambil tersenyum. Lalu Fatih bercerita kepada Salaam tentang
buku peninggalan Ayahnya. Buku itu berisi tentang wasiat dari ayah dan ibunya.
Ayahnya berpesan agar anaknya tidak melukai manusia bahkan tumbuhan dan juga
ibunya berpesan agar anaknya tidak menyepelekan ibadah dan menjaga perdamaian
di muka bumi. Salam mengangguk- anggukan kepala tanda membenarkan. Lalu Salaam
bertanya siapa gerombolan yang kemarin menyerang wilayah Pampam. “Gerombolan
itu adalah anak buah Xidol. Xidol adalah pemimpin organisasi ODOL ynag ingin
menguasai wilayah Pampan karena wilayahnya yang setrategis. Makanya Xidol dan
sekutunya berusaha dengan berbagai cara untuk mengambil paksa wilayah yang
bukan miliknya” Jawab Fatih.”Berarti mereka akan menghabisi semua orang yang
tetap mempertahankan wilayahnya?”Tanya Salaam.”Iya, karena prisip bangsa Pampam
tanah itu haq mereka dan kewajiban mereka adalah enjaga tanah tersebut”. Salaam
kagum mendengan penjelasan Fatih yang masih anak kecil bias menjelaskan
semuanya.
Salaam dan Fatih pun merencakan untuk
melumpuhkan Xidol dan organisasinya. Mereka berdua menyiapkan setrategi. Mereka
berencana melumpuhkan tetapi tidak menambah korban jiwa. Akhirnya tiba pada
waktunya. Fatih membuat kekacauan kepada pengikut Xidol. Dan akhirnya karena
kecerdikan dan oengaruh kuat Fatih, para pengikut Xidol bertobat untuk berhenti
menyrang wilayah Pampam. Sekarang tinggal Xidol yang belum di taklukan. Salaam
mendatangi rumah Xidool yang penuh penjagaan dan perangkap yang siap siaga 24
jam. Tapi Salaam bukanlah sembarang pemuda karena dia adalah sang Penyelamat.
Jadi dia dengan berbagai cara, akhirnya Salaam dapat melumpuhkan para penjaga.
Xidool pun terkena perangkapnya sendiri. Akhir cerita wilayah Pampam berubah menjadi wilayah yang nyaman, indah, damai,
dan bertambah setrategis. Salaam pun disebut masyarakat sebagai sang Penyelamat
dan Fatih sebagai sang Penakluk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar